|
|
 |
 |
Thursday, February 17, 2005
Aku bertanya. Penunjuk jalanku menunjukkan lokasi ini.
"Tandai dulu pak", katanya.
"Maksudmu?", tanyaku tidak mengerti.
Dia kemudian menjelaskan perilaku hewan yang menandai tempatnya. Ada yang menggunakan kencing. Tapi, aku tak mungkin mengencingi komputer ini. Jadi bagaimana dong, tanyaku.
"Ya, tulis saja ini daerahnya bapak," kata penunjuk jalanku
Iya juga ya. Kok bodo amat aku ini.
Jadi, anda-anda sekalian ... ini daerahku. Piss...
Posted at 04:25 pm by rahard
Permalink
Mendirikan gubug bajingan
Ditinggalkan oleh penunjuk jalan, aku termanggu-manggu. Hmm, apa yang harus pertama kali dikerjakan oleh seorang petualang macam aku? Kayaknya harus kudirikan gubuk dulu. Baik, akan kulakukan.
Aku mencari-cari. Akhirnya kutemukan batang-batang yang berwarna coklat ini sebagai penghias gubukku. Entah batang apa ini, aku tak begitu peduli. Yang penting gubuk berdiri. [Habis, ini template yang ada di blogdrive sih.]
Setelah ini apa lagi?
Teringat saran pak penunjuk jalan untuk menandai kepemilikan gubuk, aku kencingi lagi batang-batang gubuk. Piss. Lah, emangnya aku binatang? Kok pakai mengencingi batang segala. Cepat-cepat aku menyelinap masuk.
Angin sepoi-sepoi membuatku mengantuk. Tergolerlah aku.
Belum sempat tertidur benar-benar, ada suara yang aneh. Suara seperti gemericik air. Tidak keras memang suaranya. Tapi ada dipojok. Sambil tetap pada posisi tertidur, aku miringkan kepala untuk mencari arah suara. Di batang yang kukencingi tadi tampak seekor bajing ... sedang kencing! Hah?
Aku meloncat bangun, layaknya jagoan silat. Hampir terjatuh, oleng, karena darah terlambat sampai ke kepala. Sempoyongan aku berlari ke arah bajing itu, yang tentu saja sudah berlari ke sebuah pohon.
"Bajingan kau!"
Bajing terdiam. Eh, kok raut muka sang bajing seperti tertawa? (Belum pernah lihat bajing tertawa kan? Nggak lucu. Atau sebetulnya lucu, tapi aku yang lagi panas tidak merasa itu lucu.) Kenapa dia tertawa? Oh, iya ya, dia memang bajing. Pantas dibilang bajingan dia tertawa. Mungkin dia mau membalas, "Manusia kau!"
Dengan langkah lunglai, aku kembali ke gubuk, sambil sekali-sekali menengok ke belakang memlototi sanga tupai. Masih tertawakah dia?
Semenjak itu sang tupai menyertai kemanapun aku berpetualang.
Tentu saja dia kuberi nama; Bajingan.
Posted at 09:45 pm by rahard
Permalink
Aku sedang tertidur pulas ketika, lagi-lagi, ada suara ribut. Malas menggerakkan badan, kubuka mata pelan-pelan. Ternyata si Bajingan yang membuat keributan. Di berlari-lari di dalam gubukku, seakan-akan ingin membangunkanku tapi tidak berani mendekat. Maklum, kami kan baru berkenalan. Kelihatannya dia agak panik.
"kNapa?"
Tentu saja dia tidak menjawab. Tapi dia menegakkan badan, menghadap ke jalan.
Pada saat yang sama kudengar gemuruh suara, seperti ada rombongan yang datang.
Sambil malas-malasan, kutegakkan badan, dan berdiri di luar gubug.
Tak lama kemudian memang ada rombongan datang. Di depan rombongan tampak berjalan seorang dengan gagahnya. Nampak seperti bangsawan. Bajunya pun menunjukkan baju bangsawan Jawa kuno. Sementara itu disekelilingnya dia dikerumuni orang-orang yang tampaknya membawa catatan dan pensil. Untuk mencatat? Tapi mencatat apa?
Rombongan berhenti tidak jauh dariku.
"Hoi, anda." Katanya sambil menujuk ke arahku.
Aku tidak menjawab tapi tanganku menunjuk ke dadaku
"Ya, kamu."
Mata kami bertemu sejenak. Dia terkejut melihat mataku. Bukan yang pertama kalinya orang terkejut melihat mataku. Memang kulitku sawo seperti halnya kulit orang Indonesia biasa. Tapi, mataku biru. Sangat biru. Bawaan dari ayahku. Jadi ini memang kombinasi yang aneh.
"Kamu londo?" tanya sang bangsawan tu.
"Excuse me? jawabku sekenanya.
"Ha?"
"Ho?"
"He?"
"Hu?"
"Heii..."
Bajingan berguling-guling tertawa melihat lakon ini. Hampir pasti Bajingan terkentut-kentut. (Pernah lihat bajing kentut? Bukan pandangan yang menarik. Baunya pun lebih tidak menarik lagi.)
"Bagaimana pak?" tanyaku
Kaget juga dia bahwa aku bisa bahasa Indonesia. Sopan lagi.
"Anda tinggal di sini?"
"Ya, pak. Kenapa?"
"Anda bayar sewa tempat di sini?"
"Nggak pak. Ini gratisan."
"Hah? Gratisan?@! Norak amat kamu."
"Maksud bapak? Nggak boleh pakai yang gratisan?" giliran saya yang bingung.
Dia tidak menjawab dan kemudian asyik bicara.
Sementara itu orang-orang yang mengerumuni bangsawan tersebut asyik memainkan pensilnya di atas catatan yang dibawanya. Entah nulis, nggambar, atau pura-pura, aku tak tahu.
Sang bangsawan geleng-geleng kepala, kemudian berjalan meninggalkan tempat, sambil terus bicara. Aku tak tahu apa yang dibicarakannya, tapi kelihatannya seru soalnya pensil-pensil makin seru menari di atas catatan.
Aku mencari-cari Bajingan, si tukang kentut.
"Bajingan!" seruku.
Semua menoleh, melihat kepadaku. Bangsawan kelihatan sedikit marah. Mau kujelaskan ceritanya, terlalu panjang dan mungkin tidak dipercaya. Ambil jalan singkat, telunjukku menunjuk ke seekor bajing di atas pohon. Padangan mereka semua mengikuti arah telunjukku. Menganggukkan kepala, mengerti bahwa yang kumaksudkan adalah binatang itu, kemudian mereka melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu kuambil beberapa kerikil dan kusambitkan ke arah Bajingan. Dia tidak melihat datangnya kerikil karena sedang asyik mengamati kepergian rombongan. Kerikil tepat menghantam kepalanya dan dia terjatuh. Kini giliranku yang terbahak-bahak sambil memegang perut karena sakit perut.
Posted at 10:44 pm by rahard
Permalink
Friday, February 18, 2005
Perjalanan ke Planet Ronto
Masih memegangi perut, aku berhenti tertawa. Sementara itu seekor bajing keluar dari semak-semak bersungut-sungut sambil memegangi kepalanya. Ataukah itu buah kenari? Oh, bukan. Itu memang kepalanya. Aku sebetulnya ingin tertawa lagi, tapi tidak tega. Agar tidak tertawa lagi, aku berjalan menuju gubukku.
Sang bajing berlari mendahuluiku. Kembali dia bertingkah aneh menarik perhatianku. Maunya apa sih binatang satu ini.
"kNapa lagi?"
Lagi-lagi dia membuat gerakan seolah-olah meminta aku mengikuti dia. Kuikuti berapa langkah, dia menjauh, kemudian berhenti sambil menengok ke belakang. Oke. Kalau itu maupun kuikuti langkahmu.
"Oke. Silahkan duluan."
Bajing membawaku keluar dari jalan dan menerobos belukar. Dia dengan enak menerobos. Maklum badannya kan kecil sekali. Sementara aku mencoba mengikuti sambil bersusah payah menghidari cabang-cabang. Kira-kira ini berlangsung sepuluh menit. Tapi aku merasa sudah satu jam.
Kami tiba di sebuah tempat yang agak datar. Di tengah-tengahnya ada sebuah gubuk, yang nampaknya jauh lebih baik dari milikku. Aku mendekat.
Di depan terpancang papan bertulisan "Planet Ronto". Apa pula ini? Kalau Planet Hollywood, aku tahu. Apa maksudnya Planet Toronto, tapi hilang "To" di depannya? Setelah dilihat-lihat lebih teliti, memang namanya adalah "Planet Ronto". Hmm..., nama yang aneh.
Si Bajing berdiri di depan pintu, seolah-olah meminta aku membuka pintu. Sekarang nampaknya komunikasi kami makin lancar. Agak sedikit berhati-hati, aku buka pintunya. Krieeettt...
Yang kulihat membuatku takjub juga. Ternyata di dalam gubuk ini ada banyak bajing! Mirip dengan si Bajingan. Tapi terus terang aku tidak bisa membedakan satu dengan lainnya.
Ini mengingatkanku akan cerita seorang pemuda Indonesia di tempat yang pernah aku kunjungi. Katanya dia semua orang Bule kok sama saja ya? Semua berkulit putih. Sementara itu aku pernah ketemu dengan orang Bule yang melihat orang Indonesia sama saja. Semua berkulit sawo matang. Aku memang berbeda dengan lainnya, karena mata biru ini. Jadi mudah diidentifikasi. Suatu saat ini bisa jadi masalah.
Pokoknya di gubug ini semua bajing. Semua laki-laki. Darimana aku tahu? Ya, karena aku lelaki. Lelaki saling tahu. Meski beda spesies. (Percaya tidak?) Ada yang berkumpul berempat. Ada yang sendirian duduk. Ada yang sedang makan. Rupanya ini tempat berkumpulnya para bajing-an.
Para bajing ini - (bolehkah kusebut para bajingan?) - menoleh ke arahku dengan sigap. Mereka terkejut. Terdiam. Waspada. Begitu melihat si Bajingan di samping kakiku, mereka kembali sibuk dengan entah apa yang dikerjakan mereka sebelumnya. Aku masuk tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Nampaknya si Bajingan tahu bahwa aku bingung. Dia melihat ke beberapa kawannya kemudian mendekati salah satu bajing yang nampaknya, bajing juga. (Kan sudah saya beritahu bahwa saya tidak bisa membedakan mereka.) Bajing yang satu ini dengan ogah-ogahan kemudian mendekati aku. Gayanya mirip-miriplah dengan si Bajingan. Dari gerakannya, aku sudah tahu. Dia ingin aku mengikuti dia. Ada apa sih dengan bajingan ini. Kok semuanya mau mengajak aku berpetualang.
Oh iya, aku ini kan petualang. Tapi kan aku Petualang Blog, bukan Petualang Bajing(an).
Tidak apa-apa, kuikuti saja bajing yang ini.
[Nantikan petualangan berikutnya. Blog yang mengilhami ini adalah planet.terasi.net.]
Posted at 09:35 pm by rahard
Permalink
Wednesday, February 23, 2005
Terus terang aku sudah tidak sabar.
(Mungkin seperti tidak sabarnya pembaca, menunggu munculnya babak baru. Ceileh. GR nih.)
Apa sih yang mau ditunjukkan oleh bajring ... eh bajing yang ini?
Seperti yang sudah-sudah, kami menelusuri semak-semak lagi.
Perjalanan kali ini tidak terlalu lama. Entah apa ini perasaanku saja,
atau karena memang jarak dari "Planet Ronto" tidak jauh. Satu hop saja.
Entahlah. Yang penting aku sudah sampai di sebuah tempat.
Kali ini yang berdiri di hadapanku adalah sebuah bangunan yang memiliki
arsitektur khas. Bangunan ini pasti bukan asal bangun saja.
Tadinya aku mau menyebut gubuk. Tapi bangunan ini tidak layak kusebut gubuk.
Jadi kusebut bangunan saja.
Nampaknya bajring, eh ... bajing, ini nampaknya pernah menginjak sekolahan.
Mungkin dia duduk di atas dahan dan mengintip sekolahan?
Bajring, ... ahhhh, kenapa kok yang muncul kata itu lagi? Kuputuskan untuk
memberi nama bajring kepada bajing ini. Bajring mendorong pintu.
Aku menjulurkan kepala, mencoba mengintip ke dalam.
Ini tempat bajing kedua yang kukunjungi, setelah Planet Ronto.
Aku masih belum siap dengan kejutan yang ada di dalamnya.
Tidak begitu jelas isinya dari luar sini. Sekalian saja, aku melangkah masuk.
Yang pertama, kudapati sebuah foto seorang manusia di dinding.
Wajahnya kelihatan familier. Siapa ya? Oh, ya! Tak salah lagi.
Itu foto Chrisye. Lantas apa hubungannya? Aku tak tahu.
Yang kedua, nampaknya Bajring senang mengumpulkan - membuat koleksi -
apa saja. Misalnya, ada koleksi buku yang tertata rapi.
Ada koleksi CD dan DVD. Kesemuanya diindeks dalam sebuah buku indeks.
Aku mencoba melihat daftar di buku indeks dan koleksi yang ada di situ.
Nampaknya buku indeks ini juga termasuk koleksi orang lain.
Nekad, aku tuliskan koleksi bukuku di buku indeks itu.
Bajring nampaknya tidak keberatan.
Entah sudah berapa lama aku melihat-lihat buku indeks koleksi itu.
Aku puas melihat statistiknya karena koleksiku lebih banyak daripada
koleksi orang lain. Horee...
Bajring sudah tidak sabar. Melirik. Melotot. Aku balas melotot lagi.
Mana aku takut. Bola mataku lebih besar dari bola matamu.
Tapi ... untuk apa bertarung dengan bajing? Aku mengalah.
Kubuka pintu dan kupersilahkan Bajring keluar duluan.
"Silahkan bos" kataku, sambil memegangi pintu seperti penjaga pintu hotel
yang mempersilahkan tamu keluar.
Bajring melangkah tegap gagah bagaikan jenderal pada parade militer.
Aku tertawa.
Maka, kami dalam perjalanan kembali. Kali ini, aku tahu jalannya.
Ini jalan ke Planet Ronto. Kami menuju tempat berkumpulnya bajingan.
[Ide: Yet Another Jring - in reverse. Koleksi. Coba tebak!]
Posted at 06:14 pm by rahard
Permalink
Saturday, February 26, 2005
Jangan ragu. Lihatlah daku.
Kali ini aku berlari mendahului bajing yang satu ini. Tanpa aku sadari, sebetulnya aku salah jalan. Setelah sepuluh menit berlari baru aku menyadari. Sudah terlambat untuk balik lagi dan aku tidak melihat Bajring. Biarlah.
Sambil mencoba beristirahat sejenak, aku melihat ke sekeliling. Menemukan sesuatu. Aku melihat sesuatu yang mengkilau dari jarak jauh. Nampaknya seperti sebuah pantulan sinar matahari pada cermin. Hm... Ini sesuatu yang harus diselidiki. Aku berjalan menuju tempat itu.
Ternyata memang betul sebuah cermin. Sebuah cermin, berukuran lebar 2 meter dan panjang 3 meter, terpancang dengan dua tiang. Aku maju mendekat dan nampak hampir seluruh badanku. Aku mengaca, melihat dari samping kiri, dari samping kanan, dari belakang (tidak nampak apa-apa). Kemudian mengaca lagi.
Baru kusadari bahwa bagian bawah dari cermin itu ada sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan. Ada yang ditulis (dicat?) dengan rapi, dan ada yang ditulis sembarangan (grafiti yang menggunakan cat semprot). Kubaca satu persatu.
Yang rapi:
"Jangan malu. Ayo ngaku"
(Entah apa maksud tulisan itu. Kenapa mesti malu? Terus, ngaku apanya?)
Di bawahnya ada grafiti.
"Kau ragu? Tinggalkan daku"
"Lho, kau menungguku? Maafkan aku"
"Jangan belagu. Gua tonjok loe"
Sekalian saja, aku tambahkan:
"Inilah aku. Apa adanya"
Lho, kok tidak berirama? Lah, saya yang nulis kok anda yang sewot. Kalau memang anda bisa membuat yang lain, silahkan coba. Hayo coba! Kalau memang anda bisa. Saya tantang nih.
Kresek, keresek, kereeeseeek.... bunyi dari semak-semak. Muncullah Bajring. Wajahnya menunjukkan kekesalan karena saya sok tahu berlari duluan. Bersungut-sungut. Aku tersenyum. Lead the way, young fellow. Kali ini, saya tidak sok tahu lagi dan mengikuti kemana perginya Bajring.
Posted at 12:35 am by rahard
Permalink
Thursday, March 03, 2005
Bajring membawaku kembali menuju ke ara Planet Ronto. Tapi hari sudah sore, menuju ke malam.
"Jring, aku pulang saja." Bajring mengangguk. Entah ini petanda setuju, atau memang kebiasaan bajing dalam mengangguk-anggukkan kepala. Tapi apa pun jawabannya, aku melangkah pulang, menyeruak semak-semak.
Kali ini tidak ada perasaan kesal atau sebal. Yang ada justru rasa syukur karena daerah ini masih lebat ditumbuhi pepohonan. Di tempat lain, lahan seperti ini sudah pasti digunduli untuk dibuat perumahan, apartemen, ruko, perkantoran, atau bangunan lainnya. Hampir dapat dipastikan dalam cerita itu sang developer akhirnya melarikan diri. Tentunya setelah menipu para pembeli.
Senja ...
Hanya terdengar suara tonggeret.
Tidak ada suara artifisial dari mesin buatan manusia. Tidak ada suara motor, mesin, ataupun kipas angin dari komputer. Sungguh menenangkan hati. Untung aku memilih mendirikan gubuk di sini.
Sesampainya di depan gubuk, aku tidak langsung masuk, melainkan berbalik badan dan berdiri tegak, berkacak pinggang, sambil menatap ke arah Barat yang diterangi sinar lembayung.
Kali ini sesuatu mulai menyeruak dalam hatiku. Kesepian.
Ini bukan sekedar sepi karena tidak adanya suara. Lebih dalam dari itu. Ini sejenis kesepian yang dihasilkan oleh kesendirian. Lonely as the consequences of alone.
Tak tahan, aku masuk ke gubuk. Duduk terpekur di lantai beralas kayu. Melihat sekeliling ruangan. Kosong. Empty. Dekorasi? What's the point, anyway? Apa gunanya mendekorasi ruangan jika tak ada yang melihat? Aku terlalu sibuk berpetualang, tak ada yang menunggu rumah. Tak ada tamu.
Kulihat statistik, counter, di ruang depan yang seharusnya menunjukkan jumlah tamu yang datang mengunjungi gubuk ini. Angkanya tidak berubah banyak. Dia menunjukkan jumlah keluar masuknya aku. Lalu untuk apa pencatatan itu?
Setelah kesepian, kelelahan menyelinap. Aku tertidur. Sunyi.
...
Sebuah bayangan menyelinap. Berdiri. Memperhatikan sang petualang yang terlelap. Wahai petualang yang malang, katanya dalam hati. Satu tetes air mata jatuh di lantai. Bayangan terkesiap. Menyeka air mata dan menyelinap keluar. Counter tidak berubah ...
Posted at 02:11 pm by rahard
Permalink
Sunday, June 19, 2005
Menjelang pagi aku terbangun. Ada butiran air mata dipipiku. Kuseka cepat-cepat sambil menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Untung tidak ada siapa-siapa. "Ah, bayangan itu. Mengapa tidak bisa kulupakan." Kutarik napas panjang dengan mengepalkan tangan. Aku tidak boleh cengeng. Bergegas aku terbangun, menyapa matahari yang akan terbit.
Kudengar suara berisik di semak-semak. Hmm... pasti itu Bajring menjemputku kembali. Aku diam menunggu. Namun tidak ada yang muncul. Daripada menunggu, lebih baik kuhampiri saja semak itu.
Krosak!
Suara semak yang disebabkan keterkejutan seekor binatang. Lho! Itu bukan Bajring, tapi seekor binatang lain. Aku perhatikan betul. Ternyata dia seekor musang. Mata kami saling menatap, bak binatang yang akan berkelahi, mengukur langkah yang akan diambil oleh satu sama lain.
Nggak ada uursan dengan musang ini.
Aku menyerah dan melangkah balik ke gubugku.
Musang ternyata mengikuti di belakangku. Aku berhenti dan menengok ke belakang. Musang berhenti. Aku berjalan kembali dan musang mengikutiku kembali. Hm... cerita apa lagi ini?
Aku terhenyak, terduduk di gubug. Sementara itu musang tak jauh duduk memandangiku.
"Ok, I give up. What do you want?" kataku tak tahan dengan situasi ini.
Musang menatapku, kemudian berdiri dan berjalan menjauh. Aku tetap terduduk. Musang kembali lagi, menatap, dan kembali berjalan mejauh. Apa maksudnya ini? Apa maksudnya seperti Bajring
ketika mengajakku ke tempatnya? Ok. Aku bangun dan mengikuti musang tersebut. Musang kemudian berjalan memasuki sisi lain dari semak-semak. Kembali lagi aku harus menyeruak semak untuk mengikuti pemandu, yang kuberi nama "Musang-shi".
Posted at 10:58 am by rahard
Permalink
Thursday, April 06, 2006
Aku berlari mengikuti "Musang-shi", ke kanan, ke kiri, lurus, entah kemana lagi. Yang belum hanya ke atas dan ke ... bawaaaaahhhh. Tiba-tiba aku terjerumus ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam. Terperosok.
Ada sesuatu yang aneh. Waktu aku terperosok, seolah-olah waktu terdiam. Tidak! Bukan terdiam, akan tetapi dalam keadaam slow motion. Semuanya diperlambat. Aku bisa melihat ke kiri dan ke kanan sambil terus terjerumus. Entah berapa dalamnya lubang ini. Yang pasti aku masih tetap terperosot.
Di kiri dan kanan seolah-olah bagian dari hidupku ditampilkan di layar. Potongan gambar masa kecil terlintas. Tiba-tiba terlintas ... bayangan itu lagi. Perih. Saat-saat yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Waktu itu aku merasa seperti di surga dan neraka pada saat yang bersamaan. Jika waktu itu aku berada di surga, mengapa kepedihan yang kurasakan. Kucoba gapai bayangan itu. Kosong... Ah, masihkah kau di sana.
Gelap ...
Posted at 09:48 am by rahard
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|